Dalam dunia politik kenegaraan dan hubungan internasional, mungkin perkataan "demokrasi" sudah menjadi "selebriti" yang menjadi buah bibir orang-orang. Perkataan ini menjadi satu standard untuk menilai kualitas suatu negara. Padahal tidak ada siapa yang dapat memaknai apakah sebenarnya arti demokrasi tersebut.
Lihatlah pendapat Tun Dr. Mahathir Mohamad dalam blognya (http://www.chedet.co.cc/) tentang bagaimana negara-negara melihat arti demokrasi dan bagaimana negara-negara dunia ke-3 telah "tertipu" oleh jargon tersebut. Berikut saya salin kembali pendapat Dr. Mahathir tersebut untuk renungan kita.
‘Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan’. Kalimat ini tidaklah keluar dari mulut seorang ahli sastera ataupun pujangga, melainkan ia keluar dari seorang presiden pemimpin besar revolusi pahlawan proklamator Indonesia, Bung Karno. Bung Karno sendiri amat menyayangi kalimat ‘bertuah’ ini karena hampir dalam setiap pidatonya, beliau selalu menyebutkan dan mengulang-ulangnya.
Republik Indonesia merupakan sebuah negara yang telah melahirkan ribuan atau bahkan jutaan pahlawan, apakah yang tercatat dalam lembaran sejarah negara atau pun tidak. Bermacam panggilan telah dilekatkan pada sebutan pahlawan yang berjuang menegakkan negara Indonesia. Kita mengenal adanya sebutan pahlawan proklamasi, pahlawan kemerdekaan, pahlawan revolusi, pahlawan ampera, pahlawan supersemar, pahlawan trikora, dan ada sederet lagi sebutan yang dilekatkan padanya.
Tidak ada seorang pun yang ragu bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi kemelut politik dalam negeri yang paling membingungkan dan sekaligus berkepanjangan. Kemelut politik yang membingunkan pemimpin Indonesia tersebut semakin ‘runyam’ dan bertambah dengan adanya konflik politik negara yaitu tuntutan pisah dari dua propinsi paling barat dan timur Indonesia. Kemelut ini semakin mengkhawatirkan elit politik Indonesia karena rakyat dan juga organisasi kemasyarakatan pun mengambil bahagian dalam ‘pertempuran’ politik tersebut.